Arsip Tag: jalan jalan

Traveling ke Jepang Tidak Pernah Membosankan

Saat Anda bepergian, beberapa destinasi mungkin tidak seindah (atau sepi) seperti yang Anda lihat di media sosial. Beberapa orang mungkin berkata, “Pergilah pagi-pagi sekali! Anda tidak akan melihat banyak orang, jadi foto Anda akan terlihat lebih baik dan tidak perlu dihapus!” Tapi saya akan berkata, “Oh well, saya bukan orang pagi!” kalo kalian gimana? Namun ketika pergi ke Jepang rasanya saya senang sekali dan tidak apa – apa untuk bangun pagi. Karena tidak pernah cukup rasanya waktu yang saya miliki setiap saya traveling ke Jepang.

Universal Studio Japan

Saya sangat bersenang-senang di Universal Studios Japan! Bukan hanya karena aku bisa melihat Kastil Hogwarts, tapi juga untuk menaiki roller coaster ekstrim mereka!
Saya senang mendapatkan tiket Studio Pass dari @voyagin untuk masuk dan wahana sepuasnya, termasuk Express Pass yang memungkinkan saya melewati antrean dan memaksimalkan waktu saya untuk menikmati wahana paling populer seperti The Wizarding World of Harry Potter! Ini sangat berharga!

Anyway, jika Anda seorang pecandu adrenalin seperti saya, berikut adalah wahana terbaik: Dinosaurus Terbang, Perjalanan Terlarang, Hollywood Dream, Backdrop, Jurassic Park.
Karena antreannya selalu panjang, pake Express Pass bisa menghemat waktu 90 menit per atraksi! Kalau kalian suka yang mana?

Tottori Perfecture

Tahukah Anda bahwa Jepang memiliki Bukit Pasir? Bukit Pasir Tottori adalah bukit pasir terbesar di Jepang dengan bentang 16 km di sepanjang pantai dan tinggi 50 meter! Di seberang jalan ada Museum Pasir menakjubkan yang memamerkan patung-patung tingkat tertinggi yang terbuat dari pasir. Tahun ini bertema “Asia Selatan” di mana Mahatma Gandhi, Buddha, Varanasi dan Patan Durbar Square berada di antara patung-patung pasir!

Museum menarik lainnya adalah Nijisseiki Pear Museum di mana Anda dapat mempelajari sejarah, pertanian, mencicipi buah pir, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan buah pir, termasuk buah pir terbesar dengan berat 3,2 kg! Kalau nggak hujan, di padang pasir sana bisa naik onta atau kuda juga padahal. Nggak nyangka ya ada beginian di Jepang!

Diver Juga Mengikuti Protokol Menyelam Selama Pandemi

Bisakah Anda bayangkan apa yang akan terjadi setelah tidak ada yang menyelam dan apalagi perahu yang bergerak sehingga menimbulkan kebisingan bagi kehidupan laut selama berbulan-bulan? Saya kira pandemi ini adalah pengingat bagi kita-manusia- untuk berbagi hak yang sama di bumi ini dengan spesies lain. Saya tidak sabar untuk mengunjungi dan bertemu teman-teman bawah air kami. Semoga mereka baik-baik saja

Dengerin cerita-cerita mereka di berbagai daerah bikin beneran sedih loh. Usaha selam Indonesia tiba-tiba lenyap. Padahal dengan keindahan laut tanpa tanding, wisata selam tuh unggulan di Indonesia. Semoga aja wisata selam bisa jadi salah satu wisata yang paling cepat recover. Kegiatan wisata dengan group kecil, ruang yang luas, dan prosedur yang jelas….. itu bikin gua berharaaaap banget teman-teman operator selam di berbagai daerah bisa mulai beroperasi. Jadi barisan depan penggerak ekonomi negara.

Gua juga dikasih tau kalo Kemenparekraf dah siapin SOP protokol kesehatan khusus wisata selam. Tiga minggu ke depan (sd 8 Juli) gua bakalan ajak kalian “keliling2” ke Manado, Labuan Bajo, dan Bali untuk dengerin langsung keadaan mereka.

Belakangan ini para professional travelers sering kedapatan posting harapan mereka untuk bisa kembali melancong dan menjalankan profesinya. Tak ketinggalan sosmed-nya Wet Traveler. “Lucunya” sebagian dari komentar yang muncul malah mencibir bahkan tak sedikit yang melontarkan kalimat sinis penuh emosi.

Siapa yang tidak berduka karena serangan pandemik ini? Siapa yang tak sedih melihat sekeliling ataupun dirinya sendiri kehilangan sebagian atau SELURUH penghasilan? Siapa yang tidak harus mengekang dirinya untuk makan enak ataupun hanya sekadar sesuap nasi? Semua kita berduka. Tapi itu bukan untuk menghentikan PENGHARAPAN. Pengharapan untuk kembali hidup baik. Bahkan lebih baik dari sebelumnya.

Kamu pesimis? Ya jangan ajak-ajak orang lain untuk pesimis dong. Biarkan orang lain punya PENGHARAPAN. Dan kalau bisa, berikanlah mereka penggarapan itu. Kata orang bijak: “Banyak orang menyiapkan diri kalau-kalau harus menghadapi bencana. Tidak banyak yang menyiapkan diri untuk menyambut hal baik yang akan lewat yang akhirnya terlewati begitu saja.” Gw lupa sapa yang mengatakan itu. Tapi…..itulah yang membedakan orang sukses dengan LOOSERS!

Trip Ke Labuan Bajo yang Hemat Budget

Pagi yang indah diawali dengan mengunjungi Bukit Strawberry Latte. Kata Kadek Airini bentuk ulir warna di batunya mirip strawberry latte ,tinggal bawa cangkir ya kan. Emang ya, 𝙙𝙚𝙨𝙩𝙞𝙣𝙖𝙨𝙞 𝙙𝙞 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙜𝙖 𝙖𝙙𝙖 𝙖𝙗𝙞𝙨𝙣𝙮𝙖, 𝙠𝙚 𝙆𝙤𝙢𝙤𝙙𝙤 𝙠𝙖𝙮𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙖𝙝 𝙥𝙪𝙡𝙪𝙝𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙖𝙙𝙖𝙖𝙖𝙖 𝙖𝙟𝙖 𝙩𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙧𝙪 liat, kaya spot ini! Thanks to lyla adventure dan vinca voyages yang bawa kami ke spot gemes ini, trekkingnya gampang banget kok, ga sampe 10 menit udah di atas, emang rada curam di awal aja tapi mudah banget lah dibanding Padar ama Gili Lawa.

𝙔𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙪 𝙠𝙚 𝙨𝙞𝙣𝙞, 𝙨𝙞𝙡𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙧𝙚𝙦𝙪𝙚𝙨𝙩 𝙖𝙟𝙖 𝙠𝙚 Lyla adventure ya, klo waktu trip & jalurnya pas, bisa banget mampir “icip-icip” bukit strawberry ini, syarat biar bagus: harus pas ceraaah jadi warnanya keluar, kita beruntung dikasih cerah mentokkk pas ke sini.

📍𝐒𝐭𝐫𝐚𝐰𝐛𝐞𝐫𝐫𝐲 𝐋𝐚𝐭𝐭𝐞 𝐇𝐢𝐥𝐥𝐬 (Batu Strawberry)
Komodo National Park
Nusa Tenggara Timur

Dari jaman Cafe Paradise sambil dengerin lagu 𝐊𝐨𝐦𝐨𝐝𝐨 𝐒𝐮𝐧𝐬𝐞𝐭nya Ivan Nestorman, selalu cinta banget nikmatin sore di Bajo, apalagi klo dapet sunset yang cakep banget, ga pengen pulang jadinya.

Ini di spot 𝐬𝐩𝐨𝐭 𝐧𝐢𝐤𝐦𝐚𝐭𝐢𝐧 𝐬𝐮𝐧𝐬𝐞𝐭 𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐝𝐢 𝐋𝐚𝐛𝐮𝐚𝐧 𝐁𝐚𝐣𝐨, 𝐋𝐨𝐜𝐜𝐚𝐥 𝐂𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧 namanya, sekarang resortnya baru jadi sebagian tapi cafe & resto udah buka. Areanya serba putih-putih dan cantik banget, apalagi ditambah sunset Labuan Bajo.

📍𝐋𝐨𝐜𝐜𝐚𝐥 𝐂𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧
Jalan Binongko, Labuan Bajo
Nusa Tenggara Timur

𝗕𝗼𝗮𝘁 𝗱𝗮𝘆 𝗶𝘀 𝗮𝗹𝘄𝗮𝘆𝘀 𝗮 𝗴𝗼𝗼𝗱 𝗱𝗮𝘆!

Laff banget sailing sama vinca voyages. 𝗕𝘁𝘄 𝗯𝘂𝗮𝘁 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗻𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗯𝘂𝗱𝗴𝗲𝘁, 𝗶𝗻𝗶 𝘆𝗮:
Tiap weekend itu ada 𝗼𝗽𝗲𝗻 𝘁𝗿𝗶𝗽 3D/2N, ratenya start from Rp. 4,7 juta per orang (per orang ya itungannya, bukan per kamar), klo mau di Japanese Room kaya yg gw tempatin, ratenya Rp. 5,2 juta per orang.

Klo open trip udah pasti nyampur sama orang lain, klo mau lebih enak, bisa private sama temen-temen atau keluarga dekat dengan sewa full boat
Rate 𝘀𝗲𝘄𝗮 𝗳𝘂𝗹𝗹 𝗯𝗼𝗮𝘁 buat 3D/2N start from Rp. 55 juta (ini buat small group up to 4 orang), klo up to 12 orang di Rp. 65 juta. Ini kapasitas kapal buat 12 orang ya, jangan ditambah lagi, kapal kepenuhan itu ga enak, beneran!

Jangan Petik Bunga Edelweiss yang Dilindungi

Akhir akhir ini mulai marak kembali kejadian pemetikan bunga edelweis oleh beberapa oknum pendaki. Yang lebih menjengkelkan lagi mereka secara terang2an memetik dengan rona wajah yang bahagia tanpa rasa takut sedikitpun.

Padahal bunga edelweis sudah jelas dilindungi oleh undang-undang, karena keberadaannya yang langka. Selama ini, sanksinya apa? Minta maaf, klarifikasi, selesai. Apakah menimbulkan efek jera? Tidak. Nampaknya kita semua harus lebih tegas. Blacklist tidak boleh mendaki gunung di seluruh Indonesia selama 30 tahun, misalnya. Biar si pelaku nggak bisa naik gunung sampai tua.

Padahal selama ini udah berapa puluh juta informasi ada di sosial media mengenai larangan memetik bunga edelweis. Kalau alasannya karena nggak tau, nampaknya tidak mungkin. Contoh kasus terakhir, ada yang menegur “kenapa dipetik kaka, kan nggak boleh”. Logikanya jika dia memang benar-benar tidak tahu, harusnya jawab “oh nggakboleh ya?” Namun manusia ini menjawab “sebagian aja” dengan santainya.

Masa iya di tiap tempat tumbuh edelweis harus dipasang papan larangan? Kan nggak lucu. Jika larangan seringan itu saja tidak bisa dipenuhi, bagaimana aturan lain yang lebih berat? (Membawa turun sampah, misalnya). Kalo nggak mau diatur, nggak usah naik gunung.

Gunung Arjuno
Tretes oh tretes. Jalur batunya seperti jalur ojek Sumbing, namun puaaanjaaaang hingga tempat camp. Kami jalan dari jam 11 siang sampai jam 6 sore, sudah termasuk dengan istirahat 118 kali. Senang sekali ketika sampai pondokan akhirnya kami bisa merasakan jalan di atas tanah dan rumput.
Alhamdulillah sepatu mendukung, jadi telapak kaki aman. Kalo ditanya mau lagi nggak lewat jalur tretes? Jawabannya enggak. Wes cukup sekali, tapi kalian harus coba paling nggak sekali, biar tau sensasinya. Tetapi but, disana ada jeep penambang belerang yang kadang lewat.
Konon kabarnya kita boleh ikut naik keatas sampai pondokan, tapi bayar ya, biayanya aku ga paham berapa.
Nah kebetulan nih kebetulan banget, pas kita nyampe pos 1 perijinan, eh ada jeep lewat. Nah iseng2 bertanyalah kita, kalo kerir doang yang naik kita harus bayar berapa sih. Ternyata mereka hargain 200rb, seneng banget dong, yaudah deh naiklah semua kerir kita. Jadi dari pos perijinan sampai pondokan kami cuma bawa badan+makanan secukupnya. Bawa badan doang aja rasanya masih capek banget, aku nggak bayangin gimana rasanya kalo bawa kerir hahahha.
Sekian tentang Tretes.

Buku yang Menceritakan Perjalanan Hidup Travel Photographer

Me. Photo. Travel.
3 kata sederhana yg merepresentasikan isi buku pertamaku.
Menulis buku selayaknya berdialog dgn diri sendiri, tenggelam dalam nostalgia, larut dalam angan yg tak berujung, terombang ambing di antara imajinasi tanpa batas.

Bercerita, adalah salah satu mimpi terbesarku ketika beranjak dewasa. Nggak banyak orang yg tahu cerita kelam bagaimana aku bisa sampai di titik, di mana semua orang hanya melihatku melalui warna warna pastel, tanpa tahu semuanya berawal dari abu-abu. Mungkin banyak yg acuh, tapi tak sedikit jg yg penasaran, dari titik mana karyaku mulai dilirik banyak orang. Metamorfosa inilah yg coba aku kenang kembali.

Jika teman-teman menggeser ke kanan, ada 3 ‘quotes’ yg aku ambil dari 3 bab di bukuku.
Ada 7 bab yg bercerita tentang kisah yg jarang aku ungkapkan bahkan ke teman teman terdekatku. Mulai dari ‘A New Beginning’ yg berisi tentang keputusan terbesar untuk berhenti kuliah science demi mengejar mimpi menjadi fotografer, ‘Beautiful Destinations’ yang bernarasi tentang pertemuanku dengan Andy ketika membuat project dengan beautiful destination yang sekaligus mengubah hidupku sampai saat ini.

Dilanjutkan dgn ‘Dream Trip to New Zealand’ di mana teman teman bisa membayangkan bagaimana serunya aku & teman”ku berpetualang sekaligus bekerja di antara megahnya alamnya New Zealand. ‘The Hardest Job’ yg mengungkap rahasia dibalik perjuanganku sebagai seorang content creator saat bekerja di Jepang. ‘Malaysia Truly Asia’ salah satu pengalaman paling drama traveling dgn sahabatku backpacker tampan ‘The Best Job’ bab yg penuh dengan petualanganku di Eropa demi mengejar sebuah ‘kewajiban’. Benar-benar penuh perjuangan.

Last but not least ‘Dreams’. Bab ini bisa jadi bab paling dramatis, yg menggambarkan bagaimana perbedaan Wahyu yg dulu dan sekarang. Karena kekuatan mimpilah, aku bisa traveling, menulis, bercerita lebih luas, dan menularkan mimpi mimpi lainnya yg lebih besar.

Buku ini juga ditemani oleh rentetan tips fotografi & editing, cara mendapatkan uang dari fotografi & beberapa fakta tentang diriku yg sebelumnya kalian nggak tahu.

Ah rasanya nggak sabar banget untuk berbagi seluruh isi buku ini ke kalian

Keindahan Bali Seperti Tidak Ada Habisnya

Kalau ngobrolin tentang Bali memang gak ada habisnya. Dari Gunung sampai laut, semuanya lengkap. Dari budaya sampai kulineran nan lezat, tiap kabupaten punya ciri khasnya masing masing. Salah satunya di kabupaten Buleleng — daerah Munduk, yg punya banyak air terjun indah, perkebunan bunga hydrangea dengan lanskap perbukitan.

Kalau mau foto ke daerah utara memang butuh effort apalagi yg stay di Denpasar. Harus bangun subuh jam 4, setelah sampai di daerah Munduk harus beradu hawa dingin yg membuat tulang bergetar.

Tapi nilai plusnya, pagi hari suasana di sini sangat dreaaaamy. Apalagi di musim peralihan — bulan yg berakhiran ‘ber’, kabut tipis biasanya akan muncul berbarengan dgn matahari pagi. Bagi saya kata – kata saja tidak dapat menjelaskan dan mendeskripsikan indahnya pagi hari di Bali utara ini. Kalau ditanya, mau lagi gak turun ke Kelingking? Hmmmm mikir mikir dulu ya. Udah lebih dari 3x kali naik turun kelingking. Turunnya bikin sendi lutut gemeteran, naiknya apalagi HELL…

Cuma aku sangat rekomen untuk kalian at least 1x turun ke pantai Kelingking untuk merasakan suasana menakjubkan dikelilingi tebing tinggi seolah olah terdampar di sebuah pulau terpencil.
Kalau turun sore hari, sunset di sini gak ada tandingannya, salah satu spot terbaik untuk melihat sunset di Bali. Jangan lupa bawa air minum yg ukuran besar + sandal trekking agar nyaman.

Aku dapat banyak dm yg sering menanyakan, kak pakai kamera apa, lensa apa? Ini sebuah ‘judge’ tanpa makna. Ibaratnya, kalau kalian mau jago masak, kalian harus punya dapur super lengkap dengan segala peralatannya yg mahal, meja marble mewah seperti yg terlihat di acara tv.

Pertanyaanku, apakah mungkin kalian bisa langsung jago masak hanya dengan ‘fasilitas’ tersebut? Di dunia fotografi jg sama. Tidak ada salahnya mendewakan sebuah ‘gear’, yg salah adalah melupakan fungsi utama kamera sebuah media perekam, lalu membatasi kreatifitas hanya karena gak punya kamera yg harganya berdigit banyak.

Aku kasih contoh, saat ini aku lagi pakai potrait mode OPPO Reno 4 yg punya fitur Night Flare Mode. Night Flare Mode ini sangat unik karena men-‘detect’ figur objek manusia, lalu membuat backgroundnya memiliki ‘bokeh’ yg keren. Slide pertama aku ‘toning’ dengan warna yg jadi ciri khasku agar lebih dpt moodnya.

Di slide kedua, aku perlihatkan foto tanpa fitur Night Flare Mode, cukup terlihat bedanya kan?
Perlu kesabaran dalam memotret, eksplor angle, dan jg maksimalkan fitur yg ada dalam smartphonemu. Sekarang dengan smartphone pun, kita bisa mengembangkan passion kita di bidang fotografi.

Menyaksikan Pemandangan Indah dari Puncak Gunung

Prau pagi tadi, berkabut pekat namun tetap nikmat. Alhamdulillah masih diberi kesempatan menikmati pemandangan savana yang diselimuti kabut pekat di Prau sesepi ini. Selalu seneng kalau kesini (kalau lagi nggak weekend), treknya yang santai dengan pemandangan sunrise dan bukit-bukit savananya yang aduhai lumayan buat melepas stress dan penat. Siapa aja pasti setuju kalau Prau salah satu gunung dengan view terindah kan? Terima kasih teman perjalanan kali ini yang udah ngeiyain ajakan random kesini pas musim hujan begini.

Out of comfort zone adalah salah satu tujuan saya traveling. Merasakan segala suka duka selama perjalanan sampai melawan ketakutan yang sampai sekarang belum hilang, diantaranya adalah takut ketinggian tingkat akut dan naik pesawat. Tantangan ini yang terkadang membuat perjalanan lebih seru. Memacu adrenalin ketika melewati jalur dengan tepian jurang atau berdiri di bukit-bukit yang tinggi, atau juga ketika berhasil landing dengan selamat di Bandara tujuan seperti sebuah sensasi tersendiri bagi saya. Ada yang suka phobia juga kah kalau lagi traveling? Nggak mudah melawannya, tapi kalau yakin pasti bisa.

Liat foto-foto dan baca caption temen-temen ngedaki berseliweran di timeline Instagram, jadi kangen naik gunung, terutama naik gunung yang dulu. Keinget masa-masa sebelum naik gunung itu ribet nyari info gugling dan tanya temen sana-sini, urus persiapan ini itu, dan berangkat bareng-bareng dg kerir lusuh gede dipunggung. Sekarang? Berangkat sendiri, ketemu di kota tujuan, udah ga bareng temen-temen yg dulu lagi, dan ngedaki lebih santai dg daypack kecil masing-masing.

Kami rindu suasana pendakian yang sunyi seperti dulu, dimana keramah tamahan dan keakraban masih menjadi identitas utama bagi pendaki, tidak hanya peduli pada kelompok sendiri. Pada kangen gak gunung yang sepi kayak dulu? Waktu ngedaki weekend pun nggak pernah takut sesak dan rame digunungnya. Kalau sekarang? Terutama perjalanan mendaki salah satu gunung terbaik di Indonesia yaitu, Rinjani. Perjalanan membelah hutan, menuruni dan mendaki bukit, merayapi savana hingga ke puncak tertingginya, Puncak Dewi Anjani.